Nama : Ferina Bleenk Sinky
NPM : 01.17.018
Mata Kuliah : Ilmu Psikologi
Dosen : Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A
Analisis Film “A
Beautiful Mind” Berdasarkan Perspektif Psikologi.
Pertama saya mendapat Film A Beautiful Mind ini dari pertolongan youtube dengan menggunakan paket
data internet dan ditonton selama kurang lebih dua jam , saya mendonwload
kurang lebih 1 jam dan saya menontonnya selama 3 hari mengapa karena untuk
menoton film tersebut memakan waktu dan konsentrasi dalam menganilisnya .
Film A Beautiful Mind
meceritakan tentang John Forbes Nash seorang ilmuwan yang mengalami ganguan
jiwa Skizofrenia . sejak awal Nash di gambarkan sebagai pribadii , penyendiri ,
pemalu , rendah diri , introvert sekaligus aneh . Nash berhalusinasi mempunyai
teman sekamar yaitu Charles dan keponakannya bernama Marcee , nyatanya dia
tinggal sendiri di asrama . Selain itu , Nash merasa menjadi agen rahasia dari
wilian Parcher yang diminta untuk memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara
Sovyet , padahal yang dialaminya adalah tidak nyata . Hal tersebut yang membuat
istrinya Alicia khawaitr dan memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa dan
mendaptkan perawataaan di sana , hingga akhirnya dapat melanjutakan
kehidupannya bahkan mendapatkan nobel di tahun1994.
Dalam film A Beautiful Mind, diketahui
bahwa Nash menderita skizofrenia paranoid, di mana penyakit mental ini membuat
penderitanya menyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Selain itu,
keadaan ini juga didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan
kecurigaan yang tidak rasional atau logis. Skizofrenia paranoid ditandai dengan
simptom-simptom atau indikasi sebagai berikut:
1. Adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang
dipertahankan.
- Waham Kejar (delusion of persecution), yaitu
keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau
berencana membahayakan dirinya. Waham ini menjadikan penderita paranoid
selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan,
diikuti, serta diawasi. Contoh: Saat Nash merasa bahwa dirinya dan Parcher
sedang dikejar-kejar oleh kelompok bersenjata yang telah mengikutinya saat
dia mengirimkan hasil pemecahan sandi yang dia lakukan.
- Waham Kebesaran (delusion of grandeur), yaitu
keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta
menjadi orang penting. Contoh: Nash merasa bahwa dia adalah orang jenius
yang bisa menjadi agen mata-mata paling handal.
- Waham Pengaruh (delusion of influence), adalah
keyakinan bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran
dan tindakannya. Contoh: Saat Nash diyakinkan oleh Charles, Marcee, dan
Parcher untuk membunuh Alicia.
2. Adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu
hal ada dan nyata padahal kenyataannya hal tersebut hanyalah khayalan.
Contoh: Hal ini telihat saat Nash mulai mengenal Charles, dan tokoh-tokoh
lainnya yang tak lain adalah khayalannya saja.
3. Gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan
khas diikuti dengan gerakan tangan, jari, dan lengan yang aneh dan juga dapat
dilihat dari cara berjalannya.
Contoh: Saat Nash berjalan seperti dia sedang menyeret kaki sebelah
kanannya, padahal Nash tidak mempunyai kelainan secara fisik. Dan karena hal
ini pula Nash sempat menjadi bahan bully yang dilakukan mahasiswa
lainnya setelah Nash akhirnya memutuskan untuk kembali ke lingkungan akademik
setelah pengobatan panjangnya.
4. Adanya gangguan emosi
Contoh: Saat Alicia mengambil alih sebagai tulang punggung keluarga,
akhirnya Nashlah yang diberikan tanggung jawab untuk menjaga anak mereka. Pada
satu sore ditemukan saat Nash sedang memangku anaknya dengan wajah yang tidak
menunjukan ekspresi apapun.
5. Penarikan sosial (social withdrawl), pada umumnya tidak menyukai
orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya
memiliki sedikit teman.
Contoh: Dari dialog yang sering diucapkan oleh Nash, “Aku tak terlalu suka
berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku.” Dari situ
menunjukan bahwa Nash memang tidak mempunyai ketertarikan di lingkungan
sosialnya untuk membaur dengan teman-temannya yang lain. Selain itu, Nash juga
lebih memilih untuk menyendiri di perpustakaan atau di kamar asramanya, yang
tak lain ia lakukan agar dia dapat menemukan konsep teori yang baru dari
beberapa percobaan yang dia lakukan.
Diduga, penyebab gangguan kepribadian ini
disebabkan oleh respon pertahanan psikologis (mekanisme pertahanan diri) yang
berlebihan terhadap berbagai stress atau konflik terhadap egonya dan biasanya
sudah terbentuk sejak usia muda. Di mana dalam film A Beautiful Mind
digambarkan stressor yang dialami oleh Nash adalah:
- Ambisi berlebih yang dimiliki oleh Nash untuk
dapat memecahkan Hipotesis Reiman, yang tak lain adalah momok bagi para
matematikawan.
- Suasana politik dan perang yang terjadi di
negaranya, dan hal ini membuat Nash merasa takut dan khawatir.
- Merasa gagal karena dia telah didahului oleh
teman-temannya yang lain untuk mendapatkan gelar doktor.
- Merasa tidak bisa melayani istrinya (paska
pengobatan).
- Keadaannya yang tidak bisa mendapatkan
pekerjaannya kembali (paska pengobatan).

No comments:
Post a Comment