Thursday, March 6, 2025

SURAT TERBUKA UNTUK BUMI

turut berduka cita untuk bumi

tak menegerti ini agenda seting manusia atauu ujian dari tuhan ...

yang jelas lekas sembuh banyak hiikmah dari virus ini... 

manusia dan bumi memang harus berkesinambungan 

menjaga satu sama lain ...

yang pembeda jadi warna dalam isu bumi ...



 

Sunday, April 30, 2023

Bahtera Si Kompas


Inilah puan tenggelam di ujung malam

Gelombang berpuluh-puluh meter tingginya

Menggulung dan menghantam siapapun di depan

Bahteranya masih utuh dengan awak sibuk berpanjat

 

 

Kompasnya rusak dipertengahan rute rasi bintang

Kacanya pecah beserta jarum penunjuk arah yang terdiam Tanpanya sang puan pucat pasi

Ke manakah angin tertuju?

 

 

Mengarungi samudera tanpa gentar

Kini seluruh sendi tubuh ikut bergetar

Menyaksikan alam bernaung mereka yang keemasan

Entah, seperti membentuk sekumpulan petunjuk samar

 

Racau puan, seperti ini akhirnya?

Kapan menghirup rerumputan daratan nan sejuk?

Ataukah menemukan gurun dengan fatamorgana oasis?

Tunggu, bukankah satu kesalahan belum tentu merusak tujuan akhir?

 

 

Lantaran, seribu jalan lainnya belum ditemukan

Dibiarkannya alunan angin menghantar

Dengan si kompas yang berharap cemas diperbaiki

Teringat perompak baik hati berbisik lembut

 

Katanya, memulai cerita baru belum tentu seindah yang sudah

Sekali lagi, tekad menjadi saksi nyata

Si kompas mematut diri mempersiapkan

Menciptakan memori terkenang hingga nanti

 

ANTARA RUMAH DAN KITA


Seperti layaknya rumah berpenghuni, aku ingin sepasang kau dan aku menetap secara perlahan, saling menguatkan agar mampu bertahan. Tatkala ku ketuk pintu, kau buka dengan segenap restu. Sebab aku ini bagai seorang anak piatu. Memahami benar – benar setiap detak dinding didalam puing – puing, dibawah rintik demi pelik yang mengalir menjadi selir. Hadiahkan sepucuk syair. Biar terus menari – nari alunan benda mati, kursi sebagai saksi, meja hadir yang berintonasi. Lantas membentuk sebuah diksi yang bernama puisi. Membuat apa yang kekal merasa iri. Biar dingin sampai menembus tulang, akan ada peluk setelah pulang, merebah tanpa merasa takut karna rumah bukan sekedar tempat bertamu.

Nikmat syahdu yang menyiram sepi, harum yang menggantung dilangit – langit atap. Kebisuan tak bertepi, menciptakan mata bercakap – cakap. Jatuh menghadap lantai bunyi langkah kaki yang terangkai, kebersamaan tiada usai meski sang waktu tak sudi memuai, kisah kita pantang abadi. Biar tetes kenangan menuju kepunahan, yang terpenting kita takut kehilangan walau tiba dimana pada fase perpisahan. Barang kali aku mempunyai sedikit sinar yang dapat dilihat akan aku siapkan ketabahan laksana sebuah dahan, rumah adalah tempat singgah terakhir sebelum kita abadi dititik nadir.

 

 

 

Monday, August 23, 2021

SEMESTA RINDU

 Hari ini di waktu yang 

selalu ku rindukan 

aku pergi ke rumah pohon 

tempat biasa kita berbagai kisah bersama 


ku amatir satu persatu 

impian dan doa di atas

dedaunan kering yang selalu kita torehkan 


namum seketika saja aku 

di sergap kerinduan , membaca 

aksara yang kau baca 

di atas tumpukan daun kering itu 

seolah kau di sini yang ada 

untuk aku dekap 


ingatt kah kau ritual yang selalu kita lakukan

mata yang terpejam serta 

tanggaan yang saling bertautan

kita memenjatkan harapan dan doa 


aku bencii , bencii dengan jarak semsesta 

yang terbentang luas diantara kita 

menjadikan rindu semakin

tertumpuk di ujung asa 

tanpa bisa berbuat apa ?


lantas sampai kapan kau 

biarkan aku rinduu sendirian 

memberikaan aku mendamba 

atas nyatanya sosok mu di sini 

kasih aku merindukan mu 

 

(LK) 

kasih aku sudah membaca 

semua kata rindu dirimu 

semua yang kau tulis di atas 

daun kering itu , hingga semua 

kata rindu , yang kau tuluskan di atas carik kertas .


aku sudah membaca semuanya 

hmm aku tau semua daun 

kering yang berjatuhan di rumah 

pohon kita , sudah tak dapat 

lagii menampung kata kata rindu dari mu .


tak usah takut walau aku 

jauh dari rumah pohon itu 

setiap kali senja datang , senja 

selalu menggingkan ku akan 

semua tentang mu 


senja selalu membuatku , rindu padamu 

tentu saja sama spertimu ,

aku ingin sekali mendekapmu dengan erat tapi yakinlahh ,

 suatu saat nantin atau , mungkin esok hari akan datang ke rumah pohon itu 

dan kau sedang berada di rumah pohon itu

lalu kita akan duduk bersama melihat indah nya senja yang membuatt hati kita tenang


hmm

aku selalu teringat tetang kebiasaan kita ,

 yang selalu menulis semua harapan 

dan doa untuk masa depan kita 

tenang saja karena , saat itu akan segera datang 

kasih aku pun rindu kamu tak usah takut 

karena rindu yang menyatukan kita 

rindu yang membuat cinta kita 

yang berkualitas , sekali lagi aku rindu kamu 




Sunday, April 11, 2021

DI MATA MU

 Di mata mu , ku temukan ketenangan

 dan cerita petualangan yang sebisa

mungkin kau ungkapkan pada dunia  

 

di mata mu , masih membekas sisa

sisa mengamatii dunia , yang belum

kau sebut fama dan kejam

 

di mata mu temukan setitik

ke indahan , atas dasar suka pada

sebuah rasa yang kau sebut cinta

 

di mata mu ku temukan jalan untuk

kembali ke pelukan , tersenyum lepas ,

lalu perlahan menghilang .

Sunday, February 7, 2021

TENTANG MENGABDI WITH IN PAPUA


Hai papua 

Makasih ya sudah menemani perjalanan 5 hari kami di kapal

Menghapus semua perbedaan dan menyatukan kami

Mulai dari suku, agama, ras dan budaya

Makasih ya sudah membuat kami melupakan untuk tidak selalu menggenggam handphone

Membuat kebersamaan kami semakin terikat

Dan mengingatkan betapa pentingnya sosialisasi di kehidupan kita

 

 *Perjalanan* ini, memberi banyak pengalaman baik suka maupun duka 

Cerita pengalaman membuat diri ini semakin menggebu datang ke papua 

Hingga saatnya kami *menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih* 

Sinar mentari, *senyum yang tulus* , dan antusiasme adik² menyambut kami

 

 

Hai papua 

Yang konon katanya *Surga Kecil Jatuh ke Bumi* 

Indonesia yang katanya sudah merdeka 

Tapi mengapa masih banyak masyarakat di pulau terpencil hidup tidak seperti layaknya manusia. 

Keterbelakangan jelas terpampang, ketertinggalan akan teknokogi dan informasi pun nampak sangat jelas 

disana kami belajar dan membaur dengan masyarakat. 

 

Ada senyum tulus di pancaran bola mata indah itu

Membuatku ingin menetap lebih lama demi sebuah pengadian

Papua, kamu membawa cerita, cita, cinta persaudaraan 

Menyimpan sejuta keakraban dibalik selimut pengabdian

 

Papua terima kasih

Karna mu cerita ini ada untuk kenangan

 

#fbs

 

Wednesday, February 3, 2021

TO REZA KIOANO KW

 

26 Januari 2021 - Surabaya.

Tanjung perak menjadi saksi bisu perjumpaan kita.

Kulit sawo matangmu, menjadi ciri yg selalu kuingat.

Hitam panjang rambutmu beserta kumis tipis beriring senyum manismu.

Membuatku terpukau dan terpaku pada parasmu.

 

Kala itu, terasa begitu singkat waktu perkenalan kita.

Dan kukira pertemuan itu, hanya akan menjadi sebatas pertemuan.

Namun tak pernah kusangka, ternyata tuhan memiliki rencananya sendiri.

 

15 Februari 2021- Jogjakarta.

Di sudut ruangan itu kita kembali dipertemukan.

Tanpa sengaja dan tanpa terduga, kau yang pertama kali kusapa dan begitupun dirimu.

 

Tak pernah kusangka kutemui sosok sepertimu.

Kau yang begitu senang mengusiliku disetiap kegiatanku.

Namun rela menukar waktumu demi memastikan keamanku.

 

Seiring waktu berlalu, keakraban kita kian terjalin.

Bermula dari rutinitas pagi, saat aku memetik seuntai bayam dan kau membilas noda di bekas piring itu.

Namun kebersamaan itu terpaksa usai. Kita harus kembali ke pelukan kampung halaman.

Meski begitu, kuharap semua ini tak akan tenggelam dalam ingatan.

Namun akan terpaku dalam memori indah disudut hatimu.

 

 

( untuk sahabat iri di KM CERMAI TO REZA PERMANA PUTRA )

 

SURAT TERBUKA UNTUK BUMI

turut berduka cita untuk bumi tak menegerti ini agenda seting manusia atauu ujian dari tuhan ... yang jelas lekas sembuh banyak hiikmah dari...