Seringai malam menjerang meradang
Menggubris rasa berang dalam pilu
Terusiklah sang payoda di ufuk terang
Meresap ke ulu hingga kelu
Tangan yang saling mendekap erat
Cakrawala lah sang saksi bisu
Tiap rintangan serentak dilumat
Kendati pedih membelenggu
Kini angkasa hitam legam
Berhiaskan gemuruh rintihan amerta
Menikam kejam hingga runyam
Tuntas terhabisi para jelata
Api yang menggeliat merampas suka cita
Mengutuk setiap canda tawa
17 biru dibuatnya candela
Air mata pun rebas dengan sendirinya
Hingga sang kemukus jatuh dengan elok
Menghantar tirta amarta sang satria
Pupus sudah lara 17 biru
Api lenyap tinggalah tilas hitamnya
Dan pada tiap petikan harpa
Jadilah kenangan senja tak telupa
Bahkan bila sang penguasa kembali angkara
Ikatan kami tak mungkin binasa
No comments:
Post a Comment