Inilah puan tenggelam di ujung malam
Gelombang berpuluh-puluh meter tingginya
Menggulung dan menghantam siapapun di depan
Bahteranya masih utuh dengan awak sibuk berpanjat
Kompasnya rusak dipertengahan rute rasi bintang
Kacanya pecah beserta jarum penunjuk arah yang terdiam
Tanpanya sang puan pucat pas
Ke manakah angin tertuju?
Mengarungi samudera tanpa gentar
Kini seluruh sendi tubuh ikut bergetar
Menyaksikan alam bernaung mereka yang keemasan
Entah, seperti membentuk sekumpulan petunjuk samar
Racau puan, seperti ini akhirnya?
Kapan menghirup rerumputan daratan nan sejuk?
Ataukah menemukan gurun dengan fatamorgana oasis?
Tunggu, bukankah satu kesalahan belum tentu merusak tujuan akhir?
Lantaran, seribu jalan lainnya belum ditemukan
Dibiarkannya alunan angin menghantar
Dengan si kompas yang berharap cemas diperbaiki
Teringat perompak baik hati berbisik lembut
Katanya, memulai cerita baru belum tentu seindah yang sudah
Sekali lagi, tekad menjadi saksi nyata
Si kompas mematut diri mempersiapkan
Menciptakan memori terkenang hingga nanti
No comments:
Post a Comment