Seperti layaknya rumah berpenghuni,
aku ingin sepasang kau dan aku menetap secara perlahan,
saling menguatkan agar mampu bertahan.
Tatkala ku ketuk pintu, kau buka dengan segenap restu.
Sebab aku ini bagai seorang anak piatu.
Memahami benar – benar setiap detak dinding didalam puing – puing,
dibawah rintik demi pelik yang mengalir menjadi selir.
Hadiahkan sepucuk syair. Biar terus menari – nari alunan benda mati,
kursi sebagai saksi, meja hadir yang berintonasi.
Lantas membentuk sebuah diksi yang bernama puisi.
Membuat apa yang kekal merasa iri.
Biar dingin sampai menembus tulang, akan ada peluk setelah pulang,
merebah tanpa merasa takut karna rumah bukan sekedar tempat bertamu.
Nikmat syahdu yang menyiram sepi,
harum yang menggantung dilangit – langit atap.
Kebisuan tak bertepi, menciptakan mata bercakap – cakap.
Jatuh menghadap lantai bunyi langkah kaki yang terangkai,
kebersamaan tiada usai meski sang waktu tak sudi memuai,
kisah kita pantang abadi. Biar tetes kenangan menuju kepunahan,
yang terpenting kita takut kehilangan walau tiba dimana pada fase perpisahan.
Barang kali aku mempunyai sedikit sinar
yang dapat dilihat akan aku siapkan ketabahan laksana sebuah dahan,
rumah adalah tempat singgah terakhir sebelum kita abadi dititik nadir.
No comments:
Post a Comment