Di tubuh September kutabur bunga seribu warna
Pada setiap jalan menuju peraduan aksara yang tak mampu dieja
Pakondang-Mandala menjadi saksi atas perjalanan Maturasi rasa
Tepat di perempatan menuju rumahmu segumpal rindu pecah menjadi bianglala
Membias diantara jembatan dan bukit-bukit nan basah.
Di kaki bukit kucipta jejak seindah sajak
Mencari puisi dibalik imaji tak pasti sebelum hilang ditelan Oktober
Kau menjadi satu diksi dalam puisi yang kupilih
Berbaur dengan seribu aksara dalam segelas makna tak bertuah
Semanis pilu menahan sejuta rindu menggebu di dasar kalbu.
Hari ini aku memejamkan mata
Merapal do’a - do'a untuk kulepas di laut, dan di setiap reranting cemara
Barangkali semesta mengamini perihal do’aku yang menyublim
Berharap segala kembali seperti sebuah kecupan di kening
Dan mengawinkan jari-jari kita dalam bising.
No comments:
Post a Comment