Di pinggir jalan itu
Ia sedang merutuki nasib
Tetapi mulutnya tersumpal keramaian seolah ia dibisu
dan orang lalu-lalang menyumpahi kehadirannya begitupun salju yang turun malam itu
mengembun basah di pelupuk matanya
Bodoh!
Sekali lagi mulutnya muntah serapah Baru saja dinding suci kepunyaannya jebol dikoyak berahi harta sepuluh euro
Lagi-lagi, menuruti ibunya yang tak sudi hatinya dibakar kalung, cincin, dan rentetan gelang tetangga Sedang ia pun melarat
Seandainya bapaknya mau mendulang emas tambang
Setidaknya ia akan tetap mencumbu ilalang kering
Di selasar petang senja merah muda
Bukannya mengusap kaki para tuan
Lantas dipukulinya waktu yang melulu berlalu
Sembari mencari tempat pembuangan muka
Sebelum langkahnya terhenti di perempatan kota
Menanti bis malam mengantarnya pulang
Lewat tiket yang dipesan di tengah jalan kala itu
Entah ke surga atau ke nerak Terserah Tuhan
No comments:
Post a Comment